SURAT SEORANG IBU DARI PALESTINA – Aspiring Malaysian Rijal

SURAT SEORANG IBU DARI PALESTINA

Assalamualaikum wbt

 

Aku yakin banyak orang yang akan mendengarkan kata-kataku ini. Dan juga yakin, sebagian besar dari anda peduli tentang kami, mahupun peduli tentang penderitaan kami. Untuk itulah anda membaca surat ini. Aku ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas perhatian anda.

 

Kami menyambut hari dengan memastikan bahawa kami memiliki bekalan air yang cukup untuk diminum. Namun, elektrik padam, sehingga kami tidak boleh mengepam air. Aku juga harus memastikan bekalan makanan untuk anak-anak karana sukarnya mencari keperluan. Ini kerana, tentara Zionis telah membunuh penjual makanan yang biasa datang ke tempat kami. Israel juga telah membunuh tukang air yang lalu setiap pagi di kampung.

 

Aku juga tidak akan membiarkan suami pergi mencari air atau makanan. Kerana aku yakin, apabila suamiku nekad pergi ke pasar, dia tidak akan kembali lagi. Ini kerana, jika tentera (pesawat mata-mata Israel) melihatnya membawa karung makanan, dia akan  dijadikan sasaran tembak. Tentera Israel akan menganggap suamiku yang mengusung karung di bahunya itu sebagai ancaman. Padahal, dia mungkin hanya membawa kentang atau tomato. Dan aku pun bakal hidup sendiri tanpa suami dan kekasih hati.

 

Di malam hari, aku mengajak anak-anak tidur bersama dalam satu ruangan. Aku berkisah kepada mereka tentang kekejaman perang dan menjawab setiap pertanyaan mereka tentang serangan brutal Israel. Ketika anak-anak telah tidur nyenyak, ku pandang wajah-wajah mereka yang kosong di balik kegelapan. Maaf jika keterlaluan, aku seolah-olah melihat calon-calon korban pembunuhan di wajah anak-anakku.

 

Aku teringat wajah yang jadi korban pembunuhan tentera Zionis, dan membayangkan tubuh anak-anakku bersimbah darah atau hancur di bawah runtuhan. aku menangis, tersedu, teresak dan berdoa kepada Allah agar menjaga keselamatan anak-anakku. Atau jika memang Allah ingin mengambil nyawa mereka, hendaknya Dia memberikan kematian yang indah agar mereka tidak merasakan perihnya sakaratul maut.

 

Yang kuharapkan dari orang-orang yang mendengarkan kata-kataku ini untuk bersikap seolah-olah mereka berada di posisi kami. Merasakan sakitnya perang, mendengarkan dentum roket dan bom di atas kepala, menanti kematian yang datang menghampiri detik demi detik.

 

Walau demikian, aku yakin mimpiku menjadi nyata, suatu saat nanti. Aku hanya berharap darimu, dari anda semua, bantulah kami mewujudkan impian itu. Bangkitlah bersama-sama, hadapi pemerintah anda, pemerintahan yang bisu tanpa suara. Katakan kepada mereka, “Sebagai manusia kami juga punya hak untuk hidup, melawan, dan menang. Kami akan menang, suatu hari nanti!”

 

Leave a Reply